- Philly-an, Destinasi, Identitas serta Kultur.
“Philadelphia” nama kota yang bisa mengibaratkan first love dalam hidup saya. Walau hanya berangan dalam mimpi dan serta merta menjadikan itu sebagai rancangan untuk masa depan, sekiranya ya dan amin bisa mengunjungi kota tersebut. Sunggu menjadi tantangan bagi saya tuk melaluinya. Istilah tak kenal maka tak sayang berlaku dan selalu akan merekat antara saya dan kota Philadelphia. “Apapun” yang menggambarkan suatu kultur dan icon serta masih banyak dari kota Philadelphia saya kulik dan update. Tanpa saya sadari, terbilang banyak sekali moment yang sempat terpampang di hadapan saya selama ini yang menunjukan suatu eksistensi ataupun gambaran mengenai kota Philadelphia. Awalnya didasari saya sendiri menggemari olahraga Basket yang dimulai pada umur 15 tahun disaat menduduki bangku SMA, untuk kasus ini saya bertanya layak nya orang awam dengan pertanyaan kecil-kecilan mengenai basket kepada teman saya “eh woi itu siapa deh? main nya ngedunk-dunk gtu jago banget” lalu dijawab nya “ohh ini tuh pemain calon draft pick 1 NBA cuy, namanya Ben Simmons.” saya pun bertanya balik “ohh dia baru mau di prospek, skrg masih kuliah dong?” dengan takjub menyadari permainan Ben Simmons yang masih kuliah dan belum masuk NBA. lalu dijawabnya “yoi gokil kan tuh masih kuliah main-Nya ngedunk-dunk hahaha, dan rumornya-Nya juga dia mau di prospek sama Philadelphia 76ers di pick 1” saya pun merespon “emang Philadelphia 76ers jago?” dengan respon cekikikan “yah engga lah HAHA kenapa dia dapet pick 1 di NBA ya karena tim nya buruk cuy!”. Melihat respon seperti itu saya merasa sangat sedikit tertantang untuk mengulik tim tersebut karna saya sendiri memang menyukai tim yang bisa dibilang semenjana dan sedang struggle untuk mencapai kesuksesan. Dan yang sudah pasti kategori “terkenal”, sudah jago dan mendominasi bukan lah suatu tipe bagi saya. Saya sendiri menilai nya itu tidak bukan bagian dari mentalitas untuk menggapai/menyukai sesuatu. Ya! benar sajah saya setelah meriset dan mengulik tentang tim Philadelphia 76ers ternyata saya menemukan seorang ikon jadul bekas pemain tim tersebut yaitu bernama Allen Iverson. Dengan persepsi ikon tim tersebut adalah Allen Iverson, siapa yang tidak makin mengaggumi. Seorang pemain untuk postur-Nya terbilang kecil dapat mengangkat tim ini dengan permainan-Nya serta mengangkat prestasi individual-Nya. Untuk era 2000–01 adalah era-Nya Philadelphia 76ers dan akan selalu melekat dari jaman ke jaman. Melalui citra yang dibangun oleh Allen Iverson dengan rambut conrow/braids serta headband di setiap pertandingan. Mentalitas yang diberikan Iverson terhadap 76ers juga membangun kultur kuat yaitu sebagai suatu kesatuan tim dan juga kekeluargaan bila melihat cerita panjang kisah sukses Sixers melaju ke Final NBA 2000/01 bertemu LA Lakers di final dengan kekuatan kombo Kobe-Shaq dengan agregat 4–1 yang dimenangi oleh LA Lakers walaupun disaat itu kalah tapi kultur awal yaitu kekeluargaan serta kesatuan sangat lah terasa.
Kecintaan saya terhadap kota Philadelphia pun dimulai!
Apa yang saya dapat dari menonton cuplikan pertandingan Sixers yang dahulu maupun saat musim pertama kali saya menonton pada tahun 2016–2017 sudah membuat saya jatuh cinta dan menetapkan tim jagoan saya. Pada waktu saya sudah sering sekali menonton pertandingan Sixers saya hanya beranggapan konteks klub basket dan menggemari-Nya. Ya wajar pada saat itu masa-masa sekolah sering sekali ada perdebatan dan juga obrolan ringan soal basket, biar lebih keep up sajah dengan pergaulan, HEHE. Dalam konteks ini masih terasa awam untuk mengetahui lebih lanjut tentang kultur Kota Philadelphia. Karena berangkat-Nya melalui kegemaran saya dari olahraga, saya pun ingin mengetahui lebih lanjut dan ingin sedikit mengulik tentang NFL yaitu suatu olahraga cabang Amerika. Lekat sekali dengan berbau kontak fisik yang sangat keras dengan tabrakan, dorongan, sergapan, dan macam-macam.